Sunday, September 2, 2012

Santi sebenarnya adalah kenalan
lamaku. Dia dulu seorang PSK. Aku
mengenalnya ketika ia masih
menjalankan pekerjaan lamanya
tersebut. Waktu itu aku masih kuliah.
Satu sore sepulang dari daerah Cideng,
aku melewati wilayah Tanah Abang
yang secara harfiah berarti tanah merah.
Dan memang daerah ini dikenal sebagai
daerah merah. Karena haus aku mampir
ke sebuah kedai dan memesan minum.
Di dalam kedai ada seorang wanita
yang berdandan sederhana, tidak ada
riasan wajah menyolok atau pakaian
yang mengundang. Aku duduk di
depannya.
"Baru pulang kerja, Mas?" tanyanya
ramah.
"Iya," jawabku singkat. Sebenarnya
tidak, karena waktu itu aku memang
belum bekerja.
Ia mulai memberiku beberapa
pertanyaan lagi dengan nada yang
ramah, namun mulai mengarah dan
akupun dapat menduganya bahwa ia
salah satu wanita yang sedang mencari
mangsa. Akupun tahu namanya, Santi,
asalnya Tegal. Tingginya sekitar 155 cm
dengan dada cukup besar.
Akhirnya pertanyaan pokokpun terucap
dari mulutnya.
"Istirahat dulu, Mas?"
Aku pura-pura bodoh dan tidak tahu
arah pembicaraannya.
"Istirahat di mana? Ini juga mau
pulang, istirahat di rumah," kataku.
"Ah Mas ini. Jangan pura-pura. Kita ke
kamar yuk!" ajaknya.
Akhirnya setelah tercapai kesepakatan,
singkat cerita kami sudah berada di
dalam kamar hotel kumuh yang
bertebaran di sana.
Segera kupeluk dan kucium dia, tetapi
dia menolaknya.
"Kita mandi dulu deh Mas!" katanya.
Tumben pikirku, kok ada PSK yang
menyuruh tamunya mandi dulu sebelum
berkencan. Sepertinya mulai ada
kesanku secara khusus terhadapnya.
Pada waktu mandi, kusabuni punggung
dan payudaranya kemudian kusiram
dengan air dan mulai kusedot
putingnya. Ia hanya menggerinjal dan
berkata"Sabar dulu Mas, nanti saja".
Namun tangannya tidak menolakku,
bahkan tangannya yang menyabuni
penisku dengan cermat sampai bersih.
Tangannya tidak berusaha mengocok
selama berada di penisku, benar-benar
hanya menyabuni dan
membersihkannya.
Selesai mandi dan mengeringkan tubuh,
ia segera kupeluk di atas ranjang.
"Ihh Mas ini beber-benar nggak sabaran
deh. Tuh kan kalau sudah mandi badan
jadi seger!" katanya. Aku diam saja dan
mulai memainkan payudaranya.
"Sebentar Mas, berbaring aja dulu!"
katanya sambil menelentangkan
badanku.
Diambilnya cologne biasa, bukan merk
mahal, dan diusapkannya di dadaku dan
ketiakku.
"Biar harum", katanya.
Aku semakin terkesan dan mulai
menikmati tindakannya. Rasanya
dengan uang yang kukeluarkan aku
bisa mendapatkan lebih dari yang
kuharapkan. Setelah itu barulah ia
menciumku dengan lembut. Berdasar
cerita dan pengalamanku tidak setiap
PSK mau melayani tamunya berciuman
bibir. Namun Santi mencium bibirku
dengan lembut dan semakin lama
semakin kuat menyedot bibirku.
Kini dia mencium dan mengusap
dadaku yang berbulu, kemudian terus
ke bawah dan akhirnya penisku yang
masih kecil diisapnya. Tak lama
kemudian penisku pun membesar akibat
rangsangan yang diberikan. Sungguh
pandai ia memainkan mulut dan
lidahnya di sekujur penisku. Setelah
beberapa lama ia menghentikan aksinya
dan berbaring telentang. Aku tahu ia
ingin aku segera menyelesaikannya.
Kutindih dan kucium bibirnya. Tak lama
kemudian dengan arahan tangannya
penisku sudah menembus liang
vaginanya. Kurasakan iapun membalas
dengan penuh gairah setiap serangan
yang kulancarkan, namun aku tidak
tahu apakah dia benar-benar menikmati
atau hanya sekedar servis terhadap
tamunya. Lima belas menit kemudian
tubuhku sudah mengejang di atasnya.
Ia tersenyum dan mengajakku
membersihkan badan.
Selesai membersihkan badan, kami
masih sempat ngobrol-ngobrol sebentar
hal-hal mengenai dirinya. Ketika kutanya
apakah namanya hanyalah nama profesi
atau nama sebenarnya, ia mengeluarkan
KTP-nya dan menyerahkannya padaku.
Kubaca, "Rosanti". Sekilas kulihat
tanggal lahirnya, berarti ia sekarang dua
puluh delapan, sementara aku waktu itu
masih dua puluh tiga. Karena kami
kamar yang kami sewa menggunakan
cara jam-jaman dan kulihat waktu telah
habis, maka kamipun keluar dan aku
segera pulang. Kesan yang timbul
padaku, bahwa ia pun menyukaiku lebih
dari sekedar PSK dan pelanggannya.
Beberapa hari kemudian, pada suatu
siang aku lewat Tanah Abang lagi.
Hanya sekedar lewat, namun aku juga
berharap dapat bertemu dengan Santi
lagi. Ketika berjalan dalam sebuah gang
sempit, kulihat dari belakang sepertinya
Santi. Kupercepat langkahku dan
kujejerkan langkahku. Kulihat dari
samping ternyata memang Santi.
"San.. Santi ya? Masih ingat aku
nggak?" tanyaku setelah berjalan di
sampingnya.
Ia menoleh sambil menghentikan
langkahnya. Menatapku dan mengingat-
ingat, akhirnya, "Mas kan yang minggu
lalu sama aku? Namanya.. Ennggh.."
katanya.
Kupotong kata-katanya, "Anto,"
sahutku.
"Ya, Mas Anto. Baru aku ingat",
jawabnya, "Mau ke mana?"
sambungnya.
"Enggak, ini mau pulang, kebetulan
lewat sini. Siang-siang kok sudah
pulang?" tanyaku.
"Aku belum pulang mulai tadi malam.
Sekarang baru bisa pulang dan mau
istirahat".
Aku diam dan berpikir sejenak.
Melihatku kelihatan ragu dia bertanya,
"Mau istirahat lagi?"
"Boleh deh," kataku mengiakannya.
Dia tidak jadi pulang dan kembali kami
berkencan di hotel yang sama. Namun
kali ini aku ambil sewa kamar selama
dua jam. Dengan perlakuan yang sama
seperti kemarin ia melayaniku. Setelah
kutembakkan laharku, kami sama-sama
berbaring ngobrol sampai waktu habis.
Ketika aku mengeluarkan dompet, ia
berkata.
"Nanti aja, sekarang kita ke
kontrakanku yuk!"
Akupun menurut saja dan mengikutinya
ke rumah. Kembali kami mengobrol di
kontrakannya. Ia tinggal bersama
pemilik rumah, dan pemilik
rumahnyapun mengerti dan mau
menerima keadaannya. Ketika pulang,
kembali kuambil uangku, namun ia
tetap menolak dan berkata.
"Untuk ongkos pulang kamu saja ke
Bogor!"
Setelah itu kami sering bertemu. Namun
tidak setiap kali bertemu kami lalu
bergulat di atas ranjang. Kadang kami
hanya mengobrol saja. Kalau tidak ada
di hotel, kucari dia di kontrakannya.
Santi kadang masih menolak uang
pemberianku, tetapi kalau aku lagi ada
obyekan kecil, kupaksa dia untuk
menerimanya. Dia menyatakan senang
kalau ngobrol denganku.
"Ada yang mau mendengarkan dan
mengerti sisi hitam dari jalan hidupku,"
katanya.
Aku sendiri mengatakan, kalau ada
kesempatan untuk berhenti, maka
berhentilah dari pekerjaannya dan
membuka usaha atau pekerjaan yang
lain.
Suatu ketika aku mencarinya di hotel.
Kata penjaga hotel dia sudah pulang
belum lama tadi. Kususul ke rumahnya.
Ia sedang mandi. Tak lama kemudian ia
sudah menemuiku di ruang tamu. Ia
mengenakan gaun hitam panjang
dengan belahan sebelah setinggi lutut.
Kakinya yang mengenakan sepatu hak
tinggi membuat ia semakin menarik.
Kupikir-pikir ia mirip dengan Yuni Shara,
hanya saja kulitnya lebih gelap.
"Mau kemana. Kok rapi sekali?" kataku.
"Kebetulan ada kamu. Anterin ke Pasar
Minggu yuk. Aku mau beli gelang kaki
di toko emas langgananku. Dulu aku
punya, namun putus dan kujual,"
jawabnya.
Akhirnya kami berjalan ke depan
menunggu Metro Mini yang ke arah
Pasar Minggu. Panas matahari terasa
menyengat kulit. Setengah jam
menunggu belum ada juga Metro Mini
yang kami tunggu. Cuaca semakin
panas.
"Panas, San. Kita istirahat saja dulu yuk.
Entar sore aja ke Pasar Minggunya!"
ajakku.
Ia setuju. Kamipun masuk ke dalam
kamar. Kali ini dia yang memilih kamar
ke penjaganya.
"Kamar yang di sudut," katanya.
"Sama aja. Emangnya apa bedanya?"
tanyaku.
Ia tersenyum saja. Setelah mengambil
kunci maka kami masuk ke dalam
kamar yang dimaksudkannya. Isi dalam
kamr tidak berbeda dengan kamar
lainnya. Sebuah bed standar, kipas di
langit-langit, lemari dan kamar mandi.
Namun ketika kulihat di dinding, maka
ada cermin yang dipasang memanjang
sejajar dengan arah bed.
"Ooo, ini toh bedanya.." kataku.
"Tidak semua kamar ada cerminnya.
Aku tahu beberapa kamar yang
dipasang cermin. Dulu-dulu selalu tidak
pernah kebagian kamar ini".
Ia membaringkan badannya. "Tidak
mandi?" tanyaku.
Ia mengeleng, "Tidak, aku kan baru
saja mandi. Kamu saja mandi yang
bersih!"
Aku mandi dengan cepat dan yang
penting kusabuni meriamku sampai
bersih. Kulihat sudah mulai membesar
tidak sabar untuk menembakkan
pelurunya.
Selesai mandi aku keluar dari kamar
mandi dengan berlilitkan handuk.
Kulihat Santi sedang berdiri dan mulai
membuka kancing gaunnya. Kupeluk
dia dari belakang dan tanganku
membantunya melepaskan kancing dan
bajunya. Seperti biasanya ia
mengenakan celana dan bra hitam
transparan sehingga apa yang ada di
baliknya terlihat membayang. Setelah
bra-nya terlepas, kurems-remas
payudaranya dari bagian bawahnya.
Kucium leher dan telinga kirinya, tangan
kirinya terangkat dan kemudian menarik
rambutku. Handukku terlepas setelah
tangannya yang lain menarik ikatannya.
Kutekankan selangkanganku di atas
belahan pantatnya. Penisku yang sudah
mulai siaga segera terarah ke atas
setelah menempel di pinggangnya.
Kulepaskan tangannya dan mulutku
kemudian menyapu seluruh
punggungnya. Dengan gigiku kulepas
kaitan bra-nya dan dengan berjongkok
kugigit ban celana dalamnya, kutarik ke
bawah dan kuteruskan dengan tangan
untuk melepasnya.
Kupondong dan kubawa di ranjang.
Aku berdiri dengan posisi menghadap
ranjang dan Santi berbaring miring, dia
dengan lahap menghisap kejantananku.
Dijilatinya lubang kencingku, sedang
tangannya memegang dan mengocok
batang penisku kemudian memijat-mijat
buah zakarku.
"Hhmm.. Terus San. Enak.. Ohh.. Aaagak
keraas Saantiihh..".
Setelah beberapa menit menjilati
kejantananku, aku melepaskan penisku
dari mulutku. Kubuka kakinya lebar-
lebar, tercium aroma yang khas namun
segar.
"Mau diapain To?"
"Tenang aja, Aku juga ingin jilatin
milikmu"
"Enggak usah To. Jangan.. Jang.. Ngan!"
Tanpa menunggu kata-kata yang akan
diucapkannya lagi, aku langsung
menjulurkan lidahku menuju lubang
vaginanya. Dia hanya bisa merintih.
"Oooh.. Ssshhtt.. To.."
Tangannya menjambak rambutku.
Lidahku mulai mengarah ke klitorisnya.
Jambakannya bertambah kuat dan
desahannya semakin menjadi.
"Tteeruus.. Saayaanghh.. Ooohh!"
Aku semakin cepat menggerakkan
lidahku berputar-putar dan menjilati
klitorisnya. Sesekali aku menyedotnya
dengan keras. Beberapa detik kemudian
kedua tangannya menekan kepalaku
dengan kuat sehingga aku sedikit susah
bernafas. Aku semakin kuat menjilati
klitorisnya.
Kuhentikan gerakan lidahku. Kutindih
tubuhnya dan wajahnya kulihat
tersenyum. Sambil berciuman tangan
kananku menjelajah ke
selangkangannya. Dia semakin agresif
menyedot bibirku. Bibirku turun ke
lehernya, kujilat lehernya dan beralih ke
dadanya. Kuisap putingnya dan sesekali
kugigit belahan dadanya.
"Ssshh.. To.. Ahh.. Shh..".
Tangan kanannya meraih batang
penisku yang sedari tadi sudah
mengeras. Kurasakan nafasnya sudah
mulai tak teratur. Dia meremas penisku
dan mengocoknya. Aku sangat
menikmatinya permainan bibir dan
tangannya.
Santi melebarkan sedikit kakinya.
Kejantananku yang semakin mengeras
kuarahkan ke dalam lubang
kenikmatannya. Nafas kami sama-sama
sudah tidak beraturan. Kucium bibir dan
buah dadanya."Sekarang masukin saja
ya!" katanya. Dibimbingnya
kejantananku menuju lubang guanya.
Dan..
Slepp.. Blesshh!
Aku mulai menggerakkan pantatku.
Cropp.. Cropp.. Crop bunyi diantara
selangkangan kami mulai mengeras.
Santi semakin meracau.
"Ehhnaakk.. Terus yang keraas yaang..
Ahh,"
Kugerakkan pantatku semakin cepat
hingga kejantananku terasa mentok
dirahimnya. Santi membalas gerakanku
dengan gerakan memutar pinggulnya.
Kakinya menjepit pinggulku, tangannya
mejepit leher dan meremas rambutku.
Demikian kami lakukan beberapa menit
dengan mengatur tempo gerakan. Kalau
desiran di penisku sudah terasa
meningkat aku menurunkan tempo,
setelah agak menurun maka
kutingkatkan, kugenjot dengan cepat.
Kulirik bayangan di cermin. Aku seperti
melihat film dengan diriku sendiri
menjadi aktornya. Tubuhnya yang
mungil tenggelam dalam pelukan dan
genjotanku.
"Sudah.. To. Aku tidak kuat lagi!"
jeritnya sambil mengetatkan jepitan
kakinya.
Akupun dalam kondisi gairah yang
memuncak, tinggal menunggu saat
yang tepat dan kurasakan inilah
saatnya. Gerakan badan dan pantatku
semakin cepat, pinggulnya semakin liar
berputar-putar.
"Santii.. Eeeghk.. Aku.. Mauu..
Keelluuaarr.. Ahh..!!"
"Ahh.. Ayo.. To. Ayo.. Sekaranghh".
Kutahan gerakan pantatku ketika dalam
posisi naik. Dan akhirnya aliran lahar
yang tertahan dari tadipun meledak.
Kutindih tubuhnya dengan kuat. Ia
mengendorkan jepitan pada
pinggangku namun betisnya membelit
betisku dan dengan mengait betisku
pantatnya naik menyambut
kejantananku yang terhunjam cepat.
Penisku masih berdenyut di dalam
vaginanya dan menyemprotkan sisa-sisa
lahar.
Beberapa minggu kemudian akupun
sudah diterima sebagai staf pembukuan
di sebuah perusahaan di sekitar
Harmoni. Selama bekerja Santi juga
menjadi saluran bagi pemuasan
gairahku.
Ketika pada suatu hari aku mampir ke
rumahnya dia bilang mau menikah
dengan seorang pengusaha toko
sepatu. Namun dia tidak bilang kapan
waktunya. Aku mendukung rencananya
untuk menikah. Kuberikan kartu
namaku dan kukatakan.
"Hubungi aku kalau kamu ada apa-
apa!".
Ketika kucari dia di hotel tidak ada dan
kemudian aku ke rumahnya, maka
bapak pemilik rumahnya bilang ada
titipan pesan untukku kalau dia sudah
menikah.
Aku masih menjalani kehidupanku
dengan menjalin hubungan dengan
beberapa wanita dalam satu rentang
waktu. Tentunya dengan manajemen
waktu yang tepat agar tidak
bertabrakan jadwal. Santi juga tidak
pernah menelponku. Kupikir ya sudah,
biarlah dia bahagia dengan kehidupan
barunya.
Suatu sore pulang dari kantor aku
berjalan ke arah Juanda. Tiba-tiba
kulihat sekelebatan wajah seperti Santi
berjalan di depan sana. Kukejar dan
ternyata memang benar. Dia terkejut
ketika aku memanggilnya.
"San.. Santi. Tunggu dulu!"
"Eh, Mas Anto. Apa kabar?" katanya
sambil menjabat tanganku. Kupegang
tangannya dan tidak segera kulepaskan.
"Baik. Kamu agak gemukan sekarang.
Syukurlah kalau kamu sudah bahagia.
Kok nggak pernah telpon aku?"
"Kartu nama Mas ditemukan suamiku
dan dibuangnya".
Aku mengangguk-anggukkan kepalaku.
"Sekarang mau kemana?" tanyaku.
"Mau belanja di situ", katanya sambil
menunjuk ke arah Pasar Baru.
"Boleh kutemanin ya!"
"Ngrepotin dan ngganggu acara Mas
Anto saja".
Akhirnya kutemani dia belanja dan
setelah selesai belanja kuajak dia makan
di sebuah restoran fast food. Sambil
makan dia cerita bahwa dia ternyata
dijadikan istri muda. Dia diberikan
modal untuk membuka warung
kelontong. Namun suaminya jarang
pulang ke rumahnya, lebih banyak di
toko atau di tempat istri tuanya.
Dia berkata kalau dia kadang sangat
kesepian. Secara materi dia sudah
cukup, namun secara batiniah dia
menderita. Sebenarnya suaminya bukan
seorang yang lemah dalam hal
permainan ranjang, namun karena
frekuensi ketemunya jarang maka dia
menjadi kesepian.
"Aku sangat senang bertemu kamu
sekarang ini. Aku tidak menduga kalau
masih bisa bertemu kamu," katanya.
"Iya, aku juga senang melihat kamu
sudah hidup enak dan tidak menjadi
hinaan orang. sudah malam, aku mau
pulang," kataku. Ia termangu-mangu.
"To, aku mau mengulangi saat-saat
yang kita jalani dulu," katanya. Bibirnya
bergetar waktu menatapku. Aku ragu-
ragu. Kemarin sore aku sudah terkapar
lemas dengan seorang wanitaku. Bekas
gigitannya masih kelihatan memerah di
dadaku.
"Ayolah To. Kumohon!"
Akhirnya kuputuskan untuk
menemaninya sore ini. Kami segera
check in di hotel dekat sini. Karena
lama tidak bertemu, maka ia dengan
cepat sudah mencapai klimaks dan
akupun segera menyusulnya. Terasa
kering suasana sore itu, karena memang
gairahku tidak maksimal. Santi
sepertinya merasa juga bahwa aku
kurang bergairah, tidak seperti dulu-
dulu.
Ketika kami berbaring, ia melihat tanda
merah di dadaku. Ia menarik napas
panjang.
"Hhh. Pantas saja kamu tidak bergairah
sore ini. Berapa kali kamu lakukan dan
dengan pelacur mana?" katanya tajam.
Aku diam saja. Percuma saja
meladeninya. Akhirnya setelah diam
sejenak aku minta maaf dan
menjelaskan bahwa setelah dia menikah
akupun harus menyalurkan gairahku
dengan wanita selain dia. Aku minta
maaf untuk sore yang tidak
menyenangkan ini dan ia memintaku
untuk memuaskannya tiga hari lagi, pas
jatuh pada hari libur nasional. Aku
memintanya untuk mengenakan gaun
panjang hitam dan sepatu hak tinggi.
Kami pulang naik taksi dan kuantar dia
sampai depan rumahnya. Aku sengaja
tidak mampir dan iapun juga
melarangku untuk mampir ke rumahnya.
Tiga hari kemudian kami bertemu di
tempat yang telah disepakati. Santi
mengenakan pakaian seperti yang
kuminta. Kami segera menuju ke hotel
yang terselip di dalam gang di daerah
Senen. Setelah registrasi dan
menyelesaikan administrasi, kamipun
masuk ke dalam kamar.
Room boy yang mengantar kami
kemudian berbisik, "Pak mau sewa
video? Kalau mau saya ambilkan".
Aku kemudian mengiakannya. Room
boy tadi kembali ke bawah dan tak
lama kemudian sudah muncul kembali
dengan video player dan tiga buah
kasetnya. Waktu itu laser disc apalagi
VCD belum banyak beredar. Sementara
kami memasang kabel-kabel video ke
TV kamar, Santi masuk ke kamar mandi.
Setelah selesai memasang kabel, maka
room boy tadipun keluar dan berpesan.
"Selamat bersenang-senang pak. Kalau
Bapak pulang, videonya biar saja disini,
nanti biar saya bereskan".
Setelah memasang kaset yang pertama,
akupun membuka bajuku dan
membaringkan tubuhku ke atas ranjang
yang empuk. Sangat berbeda dengan
ranjang di Tanah Abang dulu. Santi
sudah berbaring di atas ranjang dengan
tubuh tertutup selimut. Kucium dengan
lembut, iapun membalasnya dengan
lembut. Ia mengamati dadaku.
"Kamu sudah siap? Nanti seperti
kemarin lagi. Aku hanya dapat sisa-sisa,"
katanya mencibirkan bibirnya. Kucubit
pinggangnya dan iapun mengelinjang
kegelian.
"Kita nonton video dulu ya.." katanya.
Sambil berpelukan kami menonton
adegan demi adegan dalam video yang
kuputar. Kaset pertama adalah film biru
yang dibintangi aktris Mandarin.
Adegan-adegan yang muncul adalah
adegan seperti biasa dalam sebuah
kaset BF. Namun karena kami nonton
berdua maka ada suatu gairah lain yang
muncul. Ketika adegan dalam video
sudah makin panas maka ia pun
berbisik.
"Mas.. Aku sudah terangsang. Ayo kita
mulai!"
Kubuka selimut yang menutupi. Ia
mengenakan baju senam yang mirip
baju renang. Kami saling berciuman,
berguling, menjilati, memagut dan
mengusap bagian-bagian tubuh yang
mendatangkan kenikmatan. Ketika
bajunya kubuka dari bahunya, ternyata
ia sudah tidak mengenakan pakaian
dalam lagi. Ia mengerti keherananku.
"Kubuka waktu aku ke kamar mandi.
Kalian sedang memasang video",
katanya tersenyum.
Tangannya bergerak ke celanaku,
membuka ikat pinggang, kancing dan
ritsluiting kemudian menyusup ke balik
celana dalamku, mengusap-usap
kejantananku yang mulai berdiri. Ia
bergerak ke arah kakiku dan setelah
semua kain di tubuhku terlepas dengan
cepat diciuminya kejantananku
sehingga tak lama kemudian semakin
tegak berdiri siap menghadapi
lawannya.
Kuberikan isyarat agar ia memutar
badannya ke atas. Kini mulut kami
sudah asyik dengan mainannya. Kujilati
bibir vaginanya, kubuka dengan
tanganku dan akhirnya sampailah di
gundukan kecilnya. Ia mendesah kuat
ketika lidahku mulai bekerja di situ.
Dibalasnya dengan suatu sedotan kuat
pada penisku, kemudian tangannya
mengocok batang penisku. Kami
bergulingan dalam posisi itu. Kadang
aku di bawah, kadang aku di atas.
Setelah puas mulut kami bermain di
selangkangan, maka kuhentikan babak
ini.
Kutindih tubuhnya dan dengan satu
tusukan penisku sudah masuk di dalam
guanya yang lembab. Terasa lebih
sempit dan nikmat dibandingkan dulu.
"Nikmat sekali San. Lebih sempit,"
kataku.
"Iya, karena jarang dipakai. Suamiku
belum tentu seminggu sekali
menggauliku.. He.. Hhh".
Ketika dengan cepat aku mulai
menggenjotnya, maka lentingan pegas
di ranjang terasa sangat membantu.
Kugenjot dengan cepat, namun ada
gaya tolakan dari lentingan pegas di
ranjang sehingga dengan sedikit tenaga
pantatku sudah naik dengan sendirinya.
Kuputar kakinya dan kuajak untuk
bermain doggy style. Ia menurut saja.
Sebentar kemudian tanpa melepaskan
kemaluan, aku sudah berada di
belakangnya dan menggerakkan
pantatku maju mundur.
Plok.. Plok.. Plok.. Suara itu terdengar
ketika pahaku beradu dengan
pantatnya. Ia hanya sedikit
menggerakkan pantatnya. Kurasakan ia
tidak bisa menikmatinya, maka kami
kembali dalam posisi semula. Setelah
beberapa lama kemudian, ia memberi
isyarat untuk mengakhiri permainan ini.
"Akhh.. Ahh. Lebih cepat dan kuat
sayangku.. Ooouhh!"
Giginya menggigit bibir bawahnya,
tangannya meremas rambutnya sendiri.
Gerakanku semakin kupercepat dan
lentingan pegas ke arah ataspun
semakin kuat dan akhirnya
Hhhkk..
Badannya mengejang dengan bola
mata memutih. Kugenjot lagi dan serr..
Spermaku tumpah ke dalam liang
vaginanya. Setelah mandi dan berbaring
menonton video lagi, lima belas menit
kepalanya sudah bermain di
selangkanganku.
"Jangan San.. Aku belum..".
"Tuh kan.. Kamu cepat loyo sekarang
ini. Jangan-jangan kemarinpun kau
sudah naik di atas perut wanita
duluan".
"Nggak.. benar kok. Nggak. Beri aku
waktu sebentar. Kamu akan kupuaskan
sampek elek!"
Benar saja. Hari itu kami habiskan
dengan dua puncak permainan yang
lebih seru. Kembali kuantarkan Santi ke
rumahnya. Kami tidak janjian untuk
ketemu lagi, hanya kembali kuberikan
nomor telpon kantorku dan ia berjanji
untuk menelponku setiap kali
membutuhkan pelepas dahaganya.
Namun kemudian sampai sekarang
telpon darinya tidak pernah ada. Biarlah
Santi menikmati kehidupannya sekarang
dan menjadi memori masa laluku.

0 komentar:

Post a Comment